Oleh : Dr. Yenrizal, S.Sos., M.Si
Aku ditemani si Bujang dan si
Gadis kecil, seperti biasa, menghabiskan waktu akhir pekan dengan berkeliling
ke desa-desa di sekitaran Sumatera Selatan. Si Bujang yang baru berusia 13
tahun dan si cantik lucu berusia 7 tahun begitu menikmati. Rutinitas ini selalu
kami jalani. “Daripada pergi ke Mall, lebih asyik ke desa,” ujar gadis cilikku.
Tentu saja aku menyambut baik, banyak ilmu yang bakal mereka dapat, terutama
menyaksikan realitas masyarakat desa yang sebenarnya.
Kali ini, rute kami adalah lokasi
Pesantren tertua di Sumsel. Si Bujang yang sudah berencana ingin masuk
pesantren selepas SMP nanti, begitu bersemangat. Sedari pagi ia sudah mendesak
untuk segera berangkat, begitupun si kecil yang sibuk pula mengemasi segala
barangnya.
Kamipun berangkat, bermula dari
gerbang tol Palindra, terus ke Inderalaya, berbelok ke kanan di Simpang
Meranjat. Kecamatan Tanjung Batu adalah tujuan kami. Jalan yang mulus, sedikit berkelok-kelok,
cuaca yang kebetulan sejuk, cukup memanjakan mata. Tanpa sadar, kedua bocah itu
terlelap dalam ayunan goyangan mobil saat jalan desa mulai dimasuki. Sepertinya
mereka terlelap dalam mimpinya masing-masing.
***
“Strike…strike!!!” teriak anak
itu saat merasakan tali pancingnya tertarik. Segera joran disentaknya,
sementara dari dalam air terlihat kecipak-kecipak kecil.
“Hei, Soleh, tarik pelan-pelan,
sini Ayah bantu,” ujar sang Ayah
memegang tangkai pancing. Sedikit dijulurnya, kemudian ditarik lagi, dijulur
dan digulung. Sang Ayah sepertinya lihai menggunakan alat tangkap ikan
tersebut.
“Wah Yah, pasti ikannya besar,
tuh menggelepar. Jangan sampai lepas Ayah,” teriak Soleh antusias. Dari dalam
rawa tampak gelepar-gelepar ikan saat tali pancing ditarik.
“Horeee…ikan gabus besar!” Soleh
melonjak kesenangan saat seekor gabus berukuran jumbo dengan berat sekitar 1,5
kg menggelepar kala pancing sampai di darat. “Mantappp,” ujarnya saat jepretan
kamera ponsel merekam dirinya sambil mengangkat ikan air tawar tersebut. Dikejauhan
tampak sang Ibu tersenyum gembira, dan seorang bocah perempuan berlari mengejar
Soleh. “Hore, kak Soleh dapat ikan,” celotehnya lucu.
“Ayo Soleh, sini cuci tangan,
kita makan dulu,” ujar sang Ibu melambai yang menunggu di bawah atap pondok
kayu bulat, seperti tempat makan lesehan di rumah makan. Ikan tangkapannya
disimpan di dalam kantong jaring, dan ia mencuci tangan di sebuah wastafel
khusus disebelah pondok. Sang Ayah juga menyusul, makan siang bersama dengan
hembusan angin lebak lebung sungguh kenikmatan tersendiri.
Di sepanjang bibir rawa tersebut,
berjejer pondok-pondok kayu, tertata rapi, lengkap dengan cucian tangan,
colokan listrik, dan meja makan lesehan. “Rumah Kayu Tanjung Batu”, begitu
tulisan kecil di dinding pondok tersebut.
Hampir semua pondok terisi penuh,
Sudung istilah orang lokal. Ada yang datang dengan keluarganya, seperti Soleh.
Ada juga kelompok muda mudi yang sedari tadi terlihat heboh. Ada juga
serombongan anak sekolah yang datang berombongan, Darmawisata SD XX, begitu
tertulis pada dinding Bus Pariwisata ada di lokasi parkiran.
“Selamat Datang di Desa Seri
Bandung, Kecamatan Tanjung Batu, Ogan Ilir, Sumatera Selatan”, begitulah
papak merek yang pertama menyambut saat memasuki area ini. Di sebelah kiri
jalan, terpampang pula sebuah baliho besar bertuliskan “Besantai di Seri
Bandung, Pelopor Pesantren di Sumatera Selatan”.
Ya , itulah kawasan yang selama
ini sudah diakui publik sebagai lokasi berdirinya Pondok Pesantren pertama kali
di Bumi Sriwijaya. Seri Bandung, desa sederhana yang bersolek di pedalaman
Sumsel.
Saat mulai memasuki Simpang
Meranjat dari Jalur Lintas Sumatera, papan nama besar itu sudah terlihat,
lengkap dengan petunjuk arah. Ada pula tambahan kalimat, “Singgah dan
Mampirlah ke Tanjung Atap, Pusatnya Produk Aluminium”.
Sebelum sampai ke Seri Bandung
dari Simpang Meranjat memang melewati Desa Tanjung Atap, sebuah desa yang sudah
lama dikenal sebagai pusatnya pengrajin aluminium. Ragam produk seperti Panci,
Kuali, Dandang, Centong dan sebagainya, dikerjakan oleh penduduk lokal.
Belakangan ini menjadi destinasi wajib bagi pelancong yang selesai melepas
penat dari Seri Bandung.
“Oleh-olehnya unik dan berguna,”
ujar Ibunya Budi.
Perjalanan menuju Seri Bandung
memang mengasyikkan. Lokasinya tak susah dijangkau, hanya sekitar 15 menit dari
Simpang Meranjat atau 45 menit dari Inderalaya Ibukota Kabupaten Ogan Ilir.
Jalan begitu mulus, rumah-rumah
panggung khas Sumsel menjadi pemandangan pertama. Deretan penjual dogan (kelapa
muda) sudah menyambut pula. Mereka berjejer dengan pondok-pondok rapi dan
bersih dipinggir jalan. Dibelakangnya, bentangan rawa luas sejauh mata
memandang jadi landscape.
Memasuki Seri Bandung, suasana
segera berubah. Hamparan rawa luas masih jadi ciri khas, tapi ada sesuatu yang
lain. Sambutan pertama adalah baliho besar “Desanya Para Santri”, dan
itu kemudian tampak nyata. Lalu lalang penduduk semua menyajikan senyum ramah.
Anak-anak muda menyambut kedatangan pelancong dengan busana kain sarung, baju
koko dan kopiah hitam. Suasana religius penuh kedamaian langsung menyelusup.
Lapangan parkir nan luas membentang, dipayungi oleh pohon-pohon rimbun memberi
kesejukan. Aliran sungai kecil di jembatan saat memasuki desa, tampak jernih
dan bersih. Rumah-rumah panggung tertata dengan indahnya, jauh dari kesan jorok
dan kotor.
Deretan penjaja kuliner khas
memenuhi kios-kios kecil. Ada kaos khas bertuliskan Pesantren Nurul Islam Seri
Bandung dengan segala macam variasinya. Ada juga kerupuk kemplang yang
tergantung di beberapa lapak, ikan asin (balur) yang sudah siap saji dalam kemasan
khusus, tak ketinggalan tentunya warung kuliner yang menyajikan sajian khas
Pindang Meranjat.
Masuk ke dalam Desa, papan
petunjuk sudah mengarahkan pada lokasi utama, Pesantren Nurul Islam. Ponpes ini
berada persis di tengah desa dengan lapangan yang luas. Tata ruangnya
menunjukkan bahwa kehadiran lembaga pendidikan ini memang menyatu dengan warga,
sekeliling pesantren dipagari oleh rumah-rumah penduduk. Semua tertata rapi,
seakan menjaga dan mengawasi kehidupan pondok. Tulisan besar ucapan selamat
datang ada di barisan depan.
Semua bangunan Ponpes tampak asri
dan kokoh. Arsitekturnya yang membuat penyatuan antara arsitektur lokal dengan
modern, serta sentuhan Timur Tengah, menjadi ciri khas yang membuatnya unik.
Masjid utama berada di bagian depan, menggunakan arsitektur khas Sumsel, masjid
dengan gaya rumah panggung, lengkap dengan Garang dan tangga kayu. Luar
biasa, estetik. Tak pernah sepi masjid ini, selalu saja ada kegiatan. Tak lupa
tentunya, spot berphoto disediakan khusus bagi wisatawan. Unik, masjid rumah
panggung di atas rawa, tentu sangat instagramable.
Kehidupan pondok begitu terasa
syahdu. Alunan suara murottal Al Qur’an terdengar sayup-sayup dari pengeras
suara yang terpasang di sekeliling
pondok. Pada saat waktu sholat tiba, suara azan akan terdengar lantang. Santri-santri
berbusana rapi, berpeci hitam, bersarung, senantiasa tersenyum saat bertemu
pengunjung. Mereka seolah sudah dilatih untuk menjadi semacam tour guide. Mereka
juga begitu fasih saat diajak berbincang tentang sejarah Ponpes tertua ini.
Perumahan penduduk yang berbaris
rapi di sepanjang pondok, selalu ramah
dan terbuka menyambut kedatangan pengunjung. Di beberapa rumah tertulis, Guest
House. Penduduk setempat menyediakan rumahnya sebagai penginapan bagi
keluarga santri ataupun pengunjung yang ingin menginap. Tak lupa tawaran bagi
yang ingin menginap, “Menginap nyaman, plus kuliner pindang dan goreng Ikan
Seluang.”
Nun di seberang ponpes, hamparan
rawa lebak lebung luas membentang, terlihat asri dengan kerimbunan pepohonan
yang ditanam di sepanjang pematang. Rawa ini memang sudah dibentuk khusus,
menyediakan pematang luas yang bisa diakses bagi pejalan kaki, lengkap dengan
atap pelindung serta kerimbunan pohon penyejuk. Bagi pelancong, mereka bisa
berkeliling rawa ataupun memancing pada spot tertentu, dengan nyaman dan
tentunya tidak kepanasan.
Di beberapa titik rawa juga
disediakan beberapa spot khusus, seperti arena permainan anak, kolam besar yang
bisa digunakan untuk wisata air. Sementar di bagian tengah, tampak pula sebuah
merek pada Sudung yang sudah dimodifikasi, “Kopi dan Cafe Urang Diri.”
Lokasi yang tak pernah sepi, bahkan di malam hari, puluhan mobil dan kendaraan
motor biasanya sengaja besanjo ke lokasi ini. Sengaja datang hanya untuk
menikmati suasana menikmati kopi di atas rawa, plus cemilan Seluang
goreng. Satu hal yang dilarang disini adalah, minuman keras, narkoba, dan judi.
Tulisan larangan sudah mengawal di pintu masuk.
Saat sore menjelang, puluhan dan
bahkan mungkin ratusan sapi-sapi milik penduduk, berenang menyusuri rawa,
menikmati rumput. Berbeda dengan daerah lain yang memiliki ikon kerbau rawa,
maka di Seri Bandung, sapi rawa adalah jenis yang unik. Berbeda dengan sapi
lain, mereka lebih senang merumput sembari berenang menyusuri rawa. Pemandangan
yang menakjubkan melihat sembulan kepala sapi merayap di permukaan rawa.
Saat senja menjelang, pesona sunset
adalah spot yang tak boleh dilupakan. Pendaran cahaya matahari yang turun
di ujung langit, merona merah, memantulkan cahaya kilauan di atas riak air
rawa. Sesekali cahaya itu menyelinap di antara perahu yang berkayuh sembari
menghalau sapi pulang ke kandang. Rawa luas tertata rapi, tak jauh beda dengan
bibir pantai menjelang magrib. Bayang-bayang atap rumah panggung menyeruak di
saat gelap mulai menjelang, berganti lampu-lampu listrik yang menghiasi
sepanjang rawa.
Maka tak heran, Desa Seri Bandung
dinobatkan sebagai Desa Wisata Lebak Lebung Religius. Tak tanggung-tanggung,
Menteri Pariwisata RI pun sudah datang kesini, menikmati keramahan dan
kesyahduan alam Sumsel. Sebuah majalah pariwisata duniapun menobatkan Seri
Bandung sebagai Desa dengan Unique Tourism in the Swamp, Wisata Unik di
Tengah Rawa. Seri Bandung pun tak lagi hanya dikenal di Sumsel, pesonanya
melintas batas, menembus manca negara. Bule-bule pun bersiap untuk berkunjung,
menikmati sunset di ujung rawa, merasakan sedapnya pindang ikan patin,
dan gurihnya cemilan Seluang goreng.
***
Akan tetapi semua kisah di atas
itu belum terjadi sekarang. Semua hanya mimpi dan angan-angan. Seri Bandung
memang punya potensi besar, lahan rawa lebak lebung nan luas, iringan sapi
pulang ke kandang, orang-orang sengaja memancing di pinggir rawa. Termasuk
keberadaan Pondok Pesantren Nurul Islam di bawah naungan Yayasan Al Anwar, ada
di tengah desa. Di masa jayanya, Pondok ini pernah menjadi pusat pendidikan
keagamaan di Sumsel, hingga kemudian kejayaan itu menurun dan pondok mulai
sepi.
Deretan penjual kelapa muda
memang sudah terlihat, pondok-pondok penjual kuliner lokal sudah banyak
berderet. Tapi hanya sebatas itu, belum ada hal lainnya.
Di sore hari, terpaan Sunset tetap
mempesona, tapi hanya sekedar itu. Belum ada pengembangan apapun. Belum ada
lokasi parkiran, belum ada fasilitas dan sarana wisata, belum ada café ataupun
rumah makan, dan belum ada destinasi khusus yang dituju wisatawan. Citra desa
wisata belum muncul.
Pihak Desa Seri Bandung
sebenarnya sudah punya angan-angan mengembangkan daerah ini sebagai sentra
wisata perairan darat. Tetapi, sampai sejauh ini, hingga tulisan ini
diterbitkan, agaknya semua itu baru sebatas mimpi. Mimpi yang kemudian terbawa
dalam lelapnya kedua anakku yang masih mendengkur halus di dalam mobil. Saat
mereka bangun, semua juga belum berubah, masih seperti itu saja. Entah suatu
saat nanti, 10 tahun lagi.