Keterangan Gambar : Dokumentasi Kegiatan
Guna mendukung dan mendorong pelaksanaan Kampus Hijau
berkelanjutan, sangat diperlukan saat ini adalah memassifkan isu lingkungan
hidup di internal kampus, ada pada semua
level dan jajaran. Termasuk juga pembentukan kelembagaan yang kuat dan
profesional.
Demikian disampaikan oleh Ketua LP2M UIN Raden Fatah
Palembang, Dr. Yenrizal, M.Si saat tampil sebagai pembicara pada ajang
Kompetisi Kampus Hijau Part 1, Jumat (27/6/25). Acara yang digelar di Rektorat
Kampus Jakabaring tersebut, membedah khusus kesiapan dan kemampuan UIN Raden
Fatah untuk mewujudkan kampus hijau yang berkelanjutan.
“Memassifkan artinya menjadikan ini betul-betul sebagai isu
bersama dan dilakukan bersama-sama. Langkahnya bisa dimulai dengan pembenahan
kelembagaan, perbaikan sarana prasarana, memberikan reward dan punishmet,
perubahan kurikulum yang berorientasi lingkungan berkelanjutan,”ujarnya lebih
lanjut.
Yenrizal juga menjelaskan bahwa selama ini masih banyak persoalan dan tantangan yang dihadapi, baik secara internal maupun tuntutan dari eksternal. “Persoalannya tantangan tersebut belum tertuang dalam sebuah blue print yang baik. Akibatnya, penyelesaian juga bersifat parsial. Tim Eco Green Campus yang sekarang sudah ada memang terus bekerja dan menunjukkan trend positif. Tetapi tim ini tidak bisa bekerja sendiri, ia harus betul-betul punya kewenangan sampai ke tingkat terbawah,” ujar akademisi komunikasi lingkungan ini.

Oleh karena itu, Yenrizal merekomendasikan agar dalam waktu
dekat segera dibentuk unit khusus yang permanen dengan fokus pada soal
lingkungan hidup dan berkelanjutan. Bentuknya bisa berupa pusat studi atau
pusat kajian, sehingga aktifitas Green Campus betul-betul bisa profesional dan
dibebankan tanggung jawab khusus. Selain itu, ia juga menyarankan adanya
pembentukan lembaga yang permanen untuk mendorong implementasi distingsi UIN
Raden Fatah, yaitu pembentukan Pusat Kajian Islam Melayu.
“Selama ini kita punya distingsi, tetapi lembaga khusus
mengelola ini belum ada yang permanen, hanya bersifat ad hoc. Harusnya ada unit
tertentu yang mengurusi ini, dan kajian Islam Melayu harus dikontekskan dengan
soal LH dan isu keberlanjutan. Jadi ada korelasi antara distingsi dengan Kampus
Hijau,” jelasnya.
Yenrizal juga menegaskan bahwa LP2M UIN Raden Fatah siap
mengelola ini dan dalam waktu dekat akan dirancang naskah akademik pembentukan
lembaga tersebut.
Narasumber lain yang juga hadi dalam kegiatan tersebut
adalah Prof. Datu Buyung Agusdinata dari Arizona State University (ASU), USA.
Datu Buyung yang berasal dari Indonesia namun menjadi pengajar tetap di ASU membagikan pengalaman ASU dalam mengelola kampus hijau.
“ASU bisa dikatakan adalah perguruan tinggi pertama di AS
yang menggagas kampus hijau berkelanjutan. Memang yang pertama dibenahi adalah
kelembagaannya. Kita punya unit khusus yang mengelola dan sampai sekarang sudah
meraih berbagai penghargaan tingkat internasional serta memperoleh sertifikat
lisensi sebagai Eco Green Campus di USA,” ujar guru besar yang berdarah
Sumatera Barat dan Lombok ini.
“Saya senang dan bangga berada disini. Dari apa yang saya
lihat dan dengar, bisa saya katakan bahwa kekuatan utama dari UIN Raden Fatah
adalah adanya wisdom yang kuat untuk mewujudkan hal tersebut. Semoga apa
yang sudah ASU capai bisa pula ditularkan dan diwujudkan di Palembang,”
ujarnya.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Tim Eco Green Campus UIN Raden
Fatah ini, dihadiri langsung oleh Rektor Prof. Dr. Muhammad Adil, MA, Wakil
Rektor, Dekan, dan semua pejabat di lingkungan UIN Raden Fatah.