Keterangan Gambar : Dokumen Kegiatan KKN
Suara
kendaraan tua itu menggeram-geram menaiki tanjakan demi tanjakan, dengusnya
bagaikan suara kerbau sehabis membajak sawah. Tikungan demi tikungan dilewati,
mendaki, menurun, semua dijalani. Tapi jalanan aspal yang sebagian sudah
terkelupas itu bagai tak ada habisnya. Lembah-lembah dan rimbunan pepohonan
hutan tampak di sisi kiri-kanan jalan. Hanya sesekali rumah-rumah warga bagai
menyembul di balik tikungan, setelah itu hutan dan tanjakan lagi. Sampai suatu
ketika, bus berdinding kayu dan jendela kayu yang bisa turun naik, akhirnya
menyerah. Dari kabin depan, gumpalan asap putih membubu ke dalam mobil.
“Radiatornya
panas, kita dinginkan dulu,” ujar sopir sambil mematikan mesin. Kamipun
bersegera turun, dikiri kanan kami hanya tampak pohon-pohon hutan, diselingi
dengan pohon durian, nangka, dan entah apa lagi. Tampaknya hanya tumbuhan liar
yang tak diurus warga. Kami bergerombol di sisi mobil, menikmati semilir angin
hutan, sambil mendengar suara-suara khas binatang hutan. Sang sopir dan
kernetnya mulai mengisi air ke dalam radiator mobil. Pak Rusmin, dosen
pembimbing kami hanya mengamati, ia cukup lelah, tapi masih berusaha tersenyum
kepada kami.

Ya, hari
ini adalah pemberangkatan rombongan KKN (Kuliah Kerja Nyata) kami dari
Universitas Sriwijaya (Unsri), Juli 1996. Dalam pembagian kelompok, kami
mendapatkan lokasi di Desa Cahaya Alam, Kecamatan Pembantu Aremantai, Kabupaten
Muara Enim, Sumatera Selatan. Tak kami tahu dimana lokasi itu, tak ada google
map, tak ada petunjuk kala itu. Yang kami tahu hanyalah Kabupaten Muara Enim.
Hanya satu pesan Pak Rusmin sebelum berangkat, bawa jaket dan selimut, disana
udaranya dingin.
Berselang
30 menit, mobil berangkat lagi. Tanjakan demi tanjakan kembali jadi sasaran
utama. Jika tadi kami melewati hutan dan lembah, sekarang berganti dengan
hamparan sawah berwarna kekuningan. Sepanjang mata memandang, kuningnya padi
betul-betul menjadi penyejuk mata. Di ujung sawah tampak bayang-bayang
perbukitan, hitam keabu-abuan, bercampur dengan cahaya matahari yang mulai
redup. Deretan rumah panggung mulai terlihat. Tetapi tetap seperti tadi,
tanjakan dan kelokan bagai tak ada habisnya. Jika dihitung sejak kami berangkat
dari Muara Enim sampai sekarang, setidaknya sudah hampir 4 jam perjalanan
ditempuh, dan jika dihitung dari Palembang, berarti sudah mendekati 8 jam.
Sungguh lokasi yang tidak bisa dianggap dekat.

Rombongan
perangkat desa menerima kami dengan terbuka, sepertinya sadar bahwa kami sudah
melewati perjalanan jauh.
“Ai pasti
capek kamu ni, jauh oi bejalan dari Plimbang,” ujar Pak Kades, belakangan
kutahu namanya Subran. Satu persatu kami salami, bu Kades, dan beberapa warga
lainnya. Temaram gelap tertimpa cahaya petromak, masih bisa membantu kami
mengenali beberapa wajah
Tak berapa
lama, suguhan kopi panas menyambut kami. Belakangan aku tahu, kopi adalah
andalan utama di daerah ini. Nasi panas dengan menu telur ceplok dan mie rebus
hadir pula didepan mata. Ah, lapar memang sudah terasa dari tadi. Udara dingin
ditambah dengan kopi dan nasi panas, komposisi yang serasi sekali.
Malam itu
kami bergelung sarung dan menebalkan jaket, plus selimut, dan tak lupa pakai
kaos kaki. Tak ada mandi, semua sudah paham. Siapa pula berani mandi es dimalam
ini.
Menebalkan
kemul (selimut) jauh lebih baik. Teman sekelompok yang laki-laki tidur di ruang
tengah, para wanita ke ruang dalam. Kulihat Eka dan Rudi yang tidur disebelahku
sedikit gelisah, kakinya seperti mencari-cari tempat yang panas. Mataku belum
terpejam, badan memang capek, tapi apa yang akan kami hadapi besok pagi?
Sebagai ketua kelompok, beban itu mulai terasa. Ini baru hari 1