ArabicEnglishIndonesian
No Telp

0711-362244

KKN Tahun 1996 Silam

Keterangan Gambar : Dokumen Kegiatan KKN


By Admin LP2M 18 Jan 2025, 12:08:59 WIB 680 Dibaca 0 Comments

KKN Tahun 1996 Silam

Suara kendaraan tua itu menggeram-geram menaiki tanjakan demi tanjakan, dengusnya bagaikan suara kerbau sehabis membajak sawah. Tikungan demi tikungan dilewati, mendaki, menurun, semua dijalani. Tapi jalanan aspal yang sebagian sudah terkelupas itu bagai tak ada habisnya. Lembah-lembah dan rimbunan pepohonan hutan tampak di sisi kiri-kanan jalan. Hanya sesekali rumah-rumah warga bagai menyembul di balik tikungan, setelah itu hutan dan tanjakan lagi. Sampai suatu ketika, bus berdinding kayu dan jendela kayu yang bisa turun naik, akhirnya menyerah. Dari kabin depan, gumpalan asap putih membubu ke dalam mobil.

“Radiatornya panas, kita dinginkan dulu,” ujar sopir sambil mematikan mesin. Kamipun bersegera turun, dikiri kanan kami hanya tampak pohon-pohon hutan, diselingi dengan pohon durian, nangka, dan entah apa lagi. Tampaknya hanya tumbuhan liar yang tak diurus warga. Kami bergerombol di sisi mobil, menikmati semilir angin hutan, sambil mendengar suara-suara khas binatang hutan. Sang sopir dan kernetnya mulai mengisi air ke dalam radiator mobil. Pak Rusmin, dosen pembimbing kami hanya mengamati, ia cukup lelah, tapi masih berusaha tersenyum kepada kami.

“Kira-kira 2 jam lagi kita sampai, sabar saja ya,” ujarnya sambil menggeser topi kuning bermerek KKN UNSRI. Masing-masing kami juga mengenakan seragam yang sama, topi kuning dan jaket almamater berwarna kuning.



Ya, hari ini adalah pemberangkatan rombongan KKN (Kuliah Kerja Nyata) kami dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Juli 1996. Dalam pembagian kelompok, kami mendapatkan lokasi di Desa Cahaya Alam, Kecamatan Pembantu Aremantai, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Tak kami tahu dimana lokasi itu, tak ada google map, tak ada petunjuk kala itu. Yang kami tahu hanyalah Kabupaten Muara Enim. Hanya satu pesan Pak Rusmin sebelum berangkat, bawa jaket dan selimut, disana udaranya dingin.

Berselang 30 menit, mobil berangkat lagi. Tanjakan demi tanjakan kembali jadi sasaran utama. Jika tadi kami melewati hutan dan lembah, sekarang berganti dengan hamparan sawah berwarna kekuningan. Sepanjang mata memandang, kuningnya padi betul-betul menjadi penyejuk mata. Di ujung sawah tampak bayang-bayang perbukitan, hitam keabu-abuan, bercampur dengan cahaya matahari yang mulai redup. Deretan rumah panggung mulai terlihat. Tetapi tetap seperti tadi, tanjakan dan kelokan bagai tak ada habisnya. Jika dihitung sejak kami berangkat dari Muara Enim sampai sekarang, setidaknya sudah hampir 4 jam perjalanan ditempuh, dan jika dihitung dari Palembang, berarti sudah mendekati 8 jam. Sungguh lokasi yang tidak bisa dianggap dekat.

Uci, Eka, Arif, Neneng, Mamat, Rudi, Dian, Oliv, teman-teman sekelompokku tampak menyenderkan kepala ke bangku bus. Wajah mereka jelas terlihat lelah, tapi sama denganku mereka juga sepertinya menikmati suasana yang ada. Entah apa yang ada dipikiran masing-masing, entah memikirkan keluarga yang ada di Palembang, atau memikirkan apa yang akan ditemui di lokasi nanti, entahlah. Masing-masing diam dan bus terus melaju. Semilir angin dingin mulai menerpa wajah kami, memperat jaket, itulah yang bisa dilakukan.



Sampai kemudian di sebuah perkampungan, bus berhenti. Suasana sudah gelap, magrib sepertinya sudah lewat. Yang kami saksikan hanya kegelapan dan sedikit kerlap-kerlip pelita dari beberapa rumah. Selebihnya gelap, hanya cahaya lampu bus yang sedikit membantu, sorotan cahayanya sekilas memperlihatkan merek Desa Cahaya Alam. Inilah tujuan kami. Dinginnya udara semakin terasa menusuk kulit. Ya kami sudah sampai, di sebuah lokasi yang serba gelap dan dingin. Tak ada listrik, dan pastinya tak ada juga TV, radio, atau lainnya, aku sudah bisa pastikan itu.

Rombongan perangkat desa menerima kami dengan terbuka, sepertinya sadar bahwa kami sudah melewati perjalanan jauh.

“Ai pasti capek kamu ni, jauh oi bejalan dari Plimbang,” ujar Pak Kades, belakangan kutahu namanya Subran. Satu persatu kami salami, bu Kades, dan beberapa warga lainnya. Temaram gelap tertimpa cahaya petromak, masih bisa membantu kami mengenali beberapa wajah

Tak berapa lama, suguhan kopi panas menyambut kami. Belakangan aku tahu, kopi adalah andalan utama di daerah ini. Nasi panas dengan menu telur ceplok dan mie rebus hadir pula didepan mata. Ah, lapar memang sudah terasa dari tadi. Udara dingin ditambah dengan kopi dan nasi panas, komposisi yang serasi sekali.

Malam itu kami bergelung sarung dan menebalkan jaket, plus selimut, dan tak lupa pakai kaos kaki. Tak ada mandi, semua sudah paham. Siapa pula berani mandi es dimalam ini.

Menebalkan kemul (selimut) jauh lebih baik. Teman sekelompok yang laki-laki tidur di ruang tengah, para wanita ke ruang dalam. Kulihat Eka dan Rudi yang tidur disebelahku sedikit gelisah, kakinya seperti mencari-cari tempat yang panas. Mataku belum terpejam, badan memang capek, tapi apa yang akan kami hadapi besok pagi? Sebagai ketua kelompok, beban itu mulai terasa. Ini baru hari 1

 

Social Share

Post Comment