Keterangan Gambar : Dokumentasi Kegiatan
Mumtazah Azahra - UINRF - Cahaya temaram berbalut
kabut tipis, sisa hujan tadi sore menyeruak di jalanan desa itu. Suasana lembab
dan sedikit dingin cukup menggigit. Aliran air Sungai Ogan mengalun pelan,
menggumpal memberi warna kegelapan. Pantulan cahaya lampu memantul menciptakan
suasana berbeda. Rumah-rumah panggung dipinggir sungai, kerlap kerlip
menyemburatkan cahaya listrik dari sela jendela. Sekilas papan nama bertuliskan
Desa Sakatiga, terlintas di ketemaraman.
Hari ini adalah hari
kesekian dari perjalanan “ilmiah” serombongan mahasiswa UIN Raden Fatah
Palembang. KKN orang menyebutnya, KKN Rekognisi judul yang diberikan. Ini
memang berbeda dari gagasan KKN sebelumnya, seperti yang selama ini dikenal.
Memang masih ada yang berpusat di desa, tapi sudah ada “gawean” yang jelas yang
akan dilakukan. Ada pengakuan (rekognisi) yang dituntut dari sini. Pengakuan
atas aktifitas pengabdian.
“Anak KKN, ya?” seorang
bapak bertanya sambil tersenyum saat kami melintas memasuki Masjid. Hangat dan
bersahabat sekali. Ada rasa lega dari sapaan itu, minimal rasa bahwa kami cukup
diterima oleh masyarakat.
Desa Sakatiga di
Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel, selama ini terkenal sebagai daerahnya para santri.
Daerah religius sebutannya, banyak ulama muncul dari sekitar wilayah ini. Oleh
karena itu, aktifitas-aktifitas keagamaan sangat kental terasa di daerah yang didominasi
perairan rawa ini.
Tentu saja kehadiran
kami, para mahasiswa KKN Rekognisi dari sebuah institusi pendidikan tinggi
Islam, bukan hal baru bagi masyarakat. Banyak warga yang juga kuliah di UIN,
bahkan tidak sedikit yang berprofesi sebagai dosen. Mungkinkah kami akan
menjadi rombongan yang ibarat menggarami air laut? Tidak akan ada bekasnya?
Rekognisi, itulah yang
kami coba tawarkan. Mencari celah-celah ruang kosong yang bisa diisi, dan
aktifitas itulah yang akan kami klaim sebagai pengakuan atas KKN yang
dilakukan.
Begitupun, saat digelar
peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW di desa ini, kami mencoba
melakukan sesuatu yang berbeda. Bukan sekedar hadir dalam peringatannya,
mendengarkan ceramah, tapi mencari sisi lain.
Kehadiran bukan sekadar
formalitas, tetapi juga wujud nyata dari pengabdian kepada masyarakat. Kami
tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga turut membantu dalam berbagai aspek
acara, seperti persiapan tempat, koordinasi acara, hingga berinteraksi langsung
dengan warga. Kehangatan yang terjalin antara mahasiswa dan masyarakat
mencerminkan nilai-nilai gotong royong yang semakin jarang ditemui di era
modern ini.
Di sisi lain,
keikutsertaan mahasiswa dalam acara keagamaan ini juga menjadi bentuk
pembelajaran sosial yang berharga. Selain
itu, KKN Rekognisi menjadi wahana bagi mahasiswa untuk menerapkan nilai-nilai
kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan terlibat langsung dalam
kehidupan masyarakat, kami belajar bekerja sama, berbagi pengalaman, serta
memahami kebutuhan dan harapan warga. Hal ini memperkuat rasa persatuan dan
kebersamaan dalam membangun lingkungan yang lebih baik.
Keberlanjutan program KKN
tidak hanya berdampak pada pembangunan desa, tetapi juga pada pembentukan
karakter mahasiswa. Dengan memahami realitas sosial secara langsung, kami dapat
mengembangkan kepekaan sosial, kepemimpinan, serta rasa empati yang tinggi.
Sementara itu, masyarakat juga mendapatkan manfaat dari ide-ide inovatif yang
dibawa oleh mahasiswa. Kebersamaan antara mahasiswa dan masyarakat dalam KKN
Rekognisi merupakan bukti bahwa sinergi akademik dan sosial dapat berjalan
seiring dalam membangun perubahan positif. Melalui keterlibatan aktif dan sikap
saling menghargai, program ini akan terus menjadi jembatan bagi generasi muda
dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan. Mereka tidak
hanya mendapatkan ilmu akademik di bangku kuliah, tetapi juga memahami
bagaimana masyarakat desa menjaga tradisi keagamaannya. Hal ini membuktikan
bahwa pendidikan tidak hanya berbasis teori, tetapi juga perlu
diimplementasikan dalam kehidupan nyata.
Satu persatu jamaah
Masjid meninggalkan halamannya. Deretan sandal yang tadi penuh, satu persatu
mulai menyusut. Cahaya lama mulai dipadamkan, sementara rintik hujanpun mulai
turun. Kami beranjak menuju lokasi menginap. Bukan kami sebut Posko, tapi tempat
hidup sementara. Pulang ke rumah kecil itu, dengan segudang isi kepala. Catatan
harian apa yang akan kami tuliskan? Tindaklanjut apa yang akan kami lakukan
besok harinya? Logbook KKN Rekognisi sudah menunggu untuk dituliskan.