ArabicEnglishIndonesian
No Telp

0711-362244

KKN Hari Pertama

Keterangan Gambar : Dokumentasi Kegiatan


By Admin LP2M 02 Jul 2025, 08:55:17 WIB 704 Dibaca 0 Comments

KKN Hari Pertama

Gemericik air rawa, ulah tingkah ikan-ikan kecil, menciptakan gelembung-gelembung kecil. Sesekali anak ikan itu bermain di sisi tiang kayu rumah panggung tersebut. Rawa yang masih menyisakan air di penghujung musim hujan menjelang kemarau, mulai tampak menyusut. Pada tempat itulah, rumah panggung bergaya sederhana menjadi pijakan pertama. Sebuah spanduk bertuliskan “Posko KKN Reguler Angkatan 83 UIN Raden Fatah” kami tempelkan di dinding yang menghadap ke jalan.

Pedesaan Ogan Ilir, Bumi Cara Seguguk, dengan sekian luas rawanya adalah pemandangan pertama yang menyambut kami. Hari itu, berenambelas orang kami resmi menempati rumah panggung yang pondasinya tertanam kuat ke dalam rawa-rawa yang mulai menyusut. Tak bisa dikatakan baru, tapi tak bisa juga disebut tua, rumah panggung khas Tanjung Sejaro, berdiri cukup kokoh. Dua bilik kamar, sebuah ruang tamu yang luas, lengkap dengan garang dan dapur, itulah yang tampak saat pintu kami buka.

“Nah, inilah tempat kamu selama KKN nanti. Silahkan diatur saja bagaimana baiknya. Listrik sudah menyala, dapur juga ada. Air bersih disini sudah mengalir, tapi kadang warga sini banyak yang ke Lebung di situ. Terserah kamulah bagaimana bagusnya,” ujar lelaki paruh baya yang sejak siang kedatangan kami begitu intens menemani. Sosok itu begitu ramah menyambut, belakangan kami tahu bahwa ialah Kepala Desa di daerah ini. Selama kami disini,  tentu ia juga yang akan didapuk menjadi “orang tua” bagi kami selama di dusun. Atas jasa Pak Kades juga rumah yang kami tempati digratiskan, kecuali dibebani ganti bayar listrik dan air. Lumayan.

“Hmmh….macem ini ye di dusun ini…mak mano nak masak atau nak makan kito ini gek,” sedikit pelan terdengar keluhan dari seorang mahasiswi. Wajahnya yang sudah terlihat lelah, mulai terlihat kusut. Jilbab yang tadi rapi ketika akan berangkat, sedikit mengkerut. Polesan bedak mulai meleleh, wajah putih itu sedikit memerah, tangan halusnya tergores memar karena sedari tadi menggeret koper besar. Ia memang bukan “Wong Dusun”, lahir di Jakarta, besar di Palembang. Kehidupan di dusun bukanlah kebiasaan baginya.

Langkah kaki kami memasuki rumah berbahan dasar kayu, menciptakan bunyi derit-derit, menandakan celah kayu-kayu lantai yang bergeser. Sebuah gorden kecil bertali plastik terbentang setengah jendela. Jika jendela dibuka, pemandangan lebak lebung nan luas membentang. Nun di ujung sana, tampak titik-titik hitam menyembul bergerak.

“Itu kerbau rawa sedang mencari makan. Biasa disini setiap hari kerbau itu akan diarahkan memasuki lebak. Khas disini,” ujar Kades seakan tahu yang kami pikirkan.

Beberapa perahu kecil tampak menyusuri rawa. Caping kecil pengemudinya dan joaran pancing jadi ciri khas. Ya…nelayan air tawar tampaknya sedang mencari peruntungan. Kami memang sudah banyak mendengar, lebak lebung di Ogan Ilir adalah syurganya ikan air tawar. Banyak lebung yang dilelang, sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat diandalkan.

“Ah, tak sabar aku ingin mancing. Banyak sekali spot mancing disini,” celetuk seorang mahasiswa sambil menghempaskan tasnya ke sudut ruangan.

Puas melihat-lihat sekeliling rumah, dapur sederhana yang full ventilasi, kamar ukuran 3 x 4 meter, satu untuk laki-laki dan satunya perempuan, ruang tengah yang menyatu dengan ruang tamu, kamipun mulai mengatur posisi. Tak banyak yang bisa dibenahi, selain meletakkan tas masing-masing, kapling tempat tidur.

“Sekarang kita mulai membagi tugas. Ini adalah posko kita, tempat menginap sekaligus berkumpulnya warga yang nanti terlibat dengan kita. Oleh sebab itu, pertama kali kita harus bagi tugas dulu, buat piket,” ujar seorang mahasiswa yang sejak awal sudah kami daulat sebagai Ketua Kelompok. Yang lain hanya diam, mengamini. Mungkin capek atau bisa jadi masih syok, tapi semua menerima saat piket mulai diatur. Si A, B, dan C bertugas memasak dan membersihkan Posko di hari Selasa dan Rabu. Yang lain melaksanakan program dengan warga desa. Hari berikutnya juga digilir pula dengan anggota lain. Pokoknya semua dapat giliran.

Maka tugas pertamapun dijalankan. Menyapu dan membersihkan Posko. Debu dan jaring laba-laba yang menempel di sela-sela plafon kayu, dibersihkan. Dapur ditata, segala perlengkapan yang sudah di bawa dari Palembang, kami keluarkan. Untunglah semua sudah siap. Kompor gas, tabung gas kecil, periuk, kuali sudah tersedia. Bukan disiapkan di desa, tapi kami bawa dari Palembang. Tak lupa galon air besar segera pula di isi. Lokasi desa yang berjarak tak terlalu jauh dari Jalan Lintas Sumatera membuat berbagai kebutuhan sehari-hari tak begitu sulit mengadakannya. Beberapa teman yang sudah terbiasa sehari-hari kost selama di Palembang, tampak lebih lincah ketimbang “anak mama” yang jarang bersentuhan dengan segala perangkat dapur.

Tapi itu semua tentu tidak gratis. Patungan alias Sokongan, harus kami lakukan. Kebutuhan rumah tangga harus kami tanggulangi bersama. Maka rekan yang didaulat sebagai Bendahara mulai melakukan kalkulasi. Hitung punya hitung, keluarlah angka tertentu yang harus dikeluarkan masing-masing. Tahap awal, Rp. 100.000 per orang. Kekurangannya nanti akan dibahas lagi.

Menjelang magrib, barulah rumah itu tertata. Wajah-wajah yang tadinya penuh semangat saat akan berangkat, mulai kuyu kelelahan. Energi itu sudah terkuras. Azan magrib dari Masjid desa sayup-sayup menyelinap dari sela-sela dinding rumah panggung tersebut. Tak ada kekuatan lagi untuk berjamaah ke Masjid, merebahkan badan sangat diperlukan.

Dari dapur, teman yang piket, muai mendendangkan dentingan kuali. Entah apa yang diolahnya, yang jelas setelah semua mandi dan sholat magrib, semangkok besar Mie Instant goreng sudah mengepul di hadapan kami.

Ini baru hari pertama. Besok lusa entah apa yang akan kami hadapi. 

Post Comment