Keterangan Gambar : Dokumentasi Kegiatan
Gemericik air rawa, ulah tingkah
ikan-ikan kecil, menciptakan gelembung-gelembung kecil. Sesekali anak ikan itu
bermain di sisi tiang kayu rumah panggung tersebut. Rawa yang masih menyisakan
air di penghujung musim hujan menjelang kemarau, mulai tampak menyusut. Pada
tempat itulah, rumah panggung bergaya sederhana menjadi pijakan pertama. Sebuah
spanduk bertuliskan “Posko KKN Reguler Angkatan 83 UIN Raden Fatah” kami
tempelkan di dinding yang menghadap ke jalan.
Pedesaan Ogan Ilir, Bumi Cara
Seguguk, dengan sekian luas rawanya adalah pemandangan pertama yang menyambut
kami. Hari itu, berenambelas orang kami resmi menempati rumah panggung yang
pondasinya tertanam kuat ke dalam rawa-rawa yang mulai menyusut. Tak bisa
dikatakan baru, tapi tak bisa juga disebut tua, rumah panggung khas Tanjung
Sejaro, berdiri cukup kokoh. Dua bilik kamar, sebuah ruang tamu yang luas,
lengkap dengan garang dan dapur, itulah yang tampak saat pintu kami
buka.
“Nah, inilah tempat kamu selama
KKN nanti. Silahkan diatur saja bagaimana baiknya. Listrik sudah menyala, dapur
juga ada. Air bersih disini sudah mengalir, tapi kadang warga sini banyak yang
ke Lebung di situ. Terserah kamulah bagaimana bagusnya,” ujar lelaki paruh baya
yang sejak siang kedatangan kami begitu intens menemani. Sosok itu begitu ramah
menyambut, belakangan kami tahu bahwa ialah Kepala Desa di daerah ini. Selama
kami disini, tentu ia juga yang akan didapuk
menjadi “orang tua” bagi kami selama di dusun. Atas jasa Pak Kades juga rumah
yang kami tempati digratiskan, kecuali dibebani ganti bayar listrik dan air.
Lumayan.
“Hmmh….macem ini ye di dusun
ini…mak mano nak masak atau nak makan kito ini gek,” sedikit pelan terdengar
keluhan dari seorang mahasiswi. Wajahnya yang sudah terlihat lelah, mulai
terlihat kusut. Jilbab yang tadi rapi ketika akan berangkat, sedikit mengkerut.
Polesan bedak mulai meleleh, wajah putih itu sedikit memerah, tangan halusnya tergores
memar karena sedari tadi menggeret koper besar. Ia memang bukan “Wong Dusun”,
lahir di Jakarta, besar di Palembang. Kehidupan di dusun bukanlah kebiasaan
baginya.
Langkah kaki kami memasuki rumah
berbahan dasar kayu, menciptakan bunyi derit-derit, menandakan celah kayu-kayu
lantai yang bergeser. Sebuah gorden kecil bertali plastik terbentang setengah
jendela. Jika jendela dibuka, pemandangan lebak lebung nan luas membentang. Nun
di ujung sana, tampak titik-titik hitam menyembul bergerak.
“Itu kerbau rawa sedang mencari
makan. Biasa disini setiap hari kerbau itu akan diarahkan memasuki lebak. Khas
disini,” ujar Kades seakan tahu yang kami pikirkan.
Beberapa perahu kecil tampak
menyusuri rawa. Caping kecil pengemudinya dan joaran pancing jadi ciri
khas. Ya…nelayan air tawar tampaknya sedang mencari peruntungan. Kami memang
sudah banyak mendengar, lebak lebung di Ogan Ilir adalah syurganya ikan air
tawar. Banyak lebung yang dilelang, sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
sangat diandalkan.
“Ah, tak sabar aku ingin mancing.
Banyak sekali spot mancing disini,” celetuk seorang mahasiswa sambil
menghempaskan tasnya ke sudut ruangan.
Puas melihat-lihat sekeliling
rumah, dapur sederhana yang full ventilasi, kamar ukuran 3 x 4 meter,
satu untuk laki-laki dan satunya perempuan, ruang tengah yang menyatu dengan
ruang tamu, kamipun mulai mengatur posisi. Tak banyak yang bisa dibenahi,
selain meletakkan tas masing-masing, kapling tempat tidur.
“Sekarang kita mulai membagi
tugas. Ini adalah posko kita, tempat menginap sekaligus berkumpulnya warga yang
nanti terlibat dengan kita. Oleh sebab itu, pertama kali kita harus bagi tugas
dulu, buat piket,” ujar seorang mahasiswa yang sejak awal sudah kami daulat
sebagai Ketua Kelompok. Yang lain hanya diam, mengamini. Mungkin capek atau
bisa jadi masih syok, tapi semua menerima saat piket mulai diatur. Si A, B, dan
C bertugas memasak dan membersihkan Posko di hari Selasa dan Rabu. Yang lain
melaksanakan program dengan warga desa. Hari berikutnya juga digilir pula
dengan anggota lain. Pokoknya semua dapat giliran.
Maka tugas pertamapun dijalankan.
Menyapu dan membersihkan Posko. Debu dan jaring laba-laba yang menempel di
sela-sela plafon kayu, dibersihkan. Dapur ditata, segala perlengkapan yang
sudah di bawa dari Palembang, kami keluarkan. Untunglah semua sudah siap.
Kompor gas, tabung gas kecil, periuk, kuali sudah tersedia. Bukan disiapkan di
desa, tapi kami bawa dari Palembang. Tak lupa galon air besar segera pula di
isi. Lokasi desa yang berjarak tak terlalu jauh dari Jalan Lintas Sumatera
membuat berbagai kebutuhan sehari-hari tak begitu sulit mengadakannya. Beberapa
teman yang sudah terbiasa sehari-hari kost selama di Palembang, tampak lebih
lincah ketimbang “anak mama” yang jarang bersentuhan dengan segala perangkat
dapur.
Tapi itu semua tentu tidak
gratis. Patungan alias Sokongan, harus kami lakukan. Kebutuhan rumah tangga
harus kami tanggulangi bersama. Maka rekan yang didaulat sebagai Bendahara
mulai melakukan kalkulasi. Hitung punya hitung, keluarlah angka tertentu yang
harus dikeluarkan masing-masing. Tahap awal, Rp. 100.000 per orang.
Kekurangannya nanti akan dibahas lagi.
Menjelang magrib, barulah rumah
itu tertata. Wajah-wajah yang tadinya penuh semangat saat akan berangkat, mulai
kuyu kelelahan. Energi itu sudah terkuras. Azan magrib dari Masjid desa
sayup-sayup menyelinap dari sela-sela dinding rumah panggung tersebut. Tak ada
kekuatan lagi untuk berjamaah ke Masjid, merebahkan badan sangat diperlukan.
Dari dapur, teman yang piket,
muai mendendangkan dentingan kuali. Entah apa yang diolahnya, yang jelas
setelah semua mandi dan sholat magrib, semangkok besar Mie Instant goreng sudah
mengepul di hadapan kami.
Ini baru hari pertama. Besok lusa
entah apa yang akan kami hadapi.