Aliran air itu begitu tenang, sedikit coklat, menyisakan
bekas hujan tadi malam. Bentangan sungai yang membentuk selat kecil karena
dibatasi sebuah pulau, konon dinamakan Pulau Payung, adem, tak beriak, seakan
menyimpan sejuta misteri didalamnya. Tiga buah perahu, speed boat, bergoyang
lembut mengikuti irama alunan sungai. Kendati tertambat ke sebuah bibir dermaga
kecil, tapi tetap saja melenggok-lenggok. Hampir sepanjang bibir perairan itu,
goyangan perahu seakan seirama dengan tumpukan sampah yang turun naik di bawah
rumah-rumah panggung.
Dari sebuah warung, alunan irama Dangdut, naik turun senada
hembusan angin laut. Sesekali terdengar suara sang pemilik warung, menggumam
mengikuti suara Biduan.
Beberapa hasta dari juluran dermaga semen itu, riuh rendah
suara becak motor berbaur dengan ocehan anak-anak yang bermain seakan tak
pernah takut dengan pekatnya sungai. Ibu-ibu asyik mengulas isu artis terbaru,
sembari jemari mereka asyik mengurut-urutkan jaring-jaring pukat bertali nilon.
Kampung itu seakan tak pernah sepi, tapi sekaligus sangat
kontras. Ramai dan padat ke wilayah pemukiman, tetapi sendu di bibir dermaga.
Disitulah aku berdiri, berteduh di bawah atap dermaga lapuk,
beralaskan sisa-sisa kayu yang mulai digerogoti rayap. Di atas bangunan tanpa
dinding itu tergantung papan merek yang mulai kusam, Kampung Nelayan Marga
Sungsang, Banyuasin, begitu ejaannya.
Entah sudah berapa lama aku berdiri disitu, 30 menit, 1 jam,
2 jam, entahlah. Mataku hanya menatap ke arah riak-riak tenang Sungai Musi,
sesekali menjurus ke arah muara luas menuju Selat Bangka. Tak ada satupun yang
menegurku, kendati lalu lalang manusia di jalan setapak ber cor beton, tak ada
putusnya. Mereka bagai tak peduli dengan kehadiranku.
Tapi aku tak sendiri, disudut lain bangunan dermaga atau lebih tepatnya pondok lapuk tempat istirahat penumpang, ada seseorang perempuan. Ia mungkin lebih lama dariku duduk disitu, karena kutahu ia sudah ada sebelum aku bermenung di atas aliran air.

Rambutnya keriting, keriput menggelantung di antara bibir
keringnya. Sudut mataku bisa mencermati itu. Tak bisa dikatakan rapi. Kusut
mengkerut helaian rambut itu, compang camping daster gelapnya. Mulutnya sedari
tadi tak henti bergumam, kadang ia tersenyum, kadang kudengar sesenggukan. Ah,
tak waras rupanya.
Biarlah, ia toh tak mengganggu. Setidaknya, aku tak
sendiri di dermaga tua ini.
“Hoiiii…..dalam dalam si Sungai Musi, banyunyo tenang
banyak buayo. Hoiii….dalam-dalam pedihnyo hati, sangkoku lemak ruponyo saro”
Berpantunnya rupanya wanita tua itu, ataukah berdendang?
“Hik….hik….duhai fatwa pujangga, dalamnya laut dapat
diduga, dalamnya hati siapa tahu…hik…hik,” wanita itu kudengar merubah
liriknya.
Eh aku kenapa mulai tertarik. Sedari tadi kubermenung
menatap Musi, tak terdengar dendangnya. Sepertinya ada sesuatu yang menarik.
Mungkin saat dia waras dulu, ia adalah seorang biduan di
kampung ini. Yang jelas ia terdengar cukup fasih dalam melantunkan syair.
“Tram tam tam…. Tram tam tam….dug dug dug der….huiiiiiii…”
ia terus bersuara, berdendang sesuka hatinya.
“Heiiiii….dengarlah kisah hidup manusia, bekawan banyak,
begawe ragap. Tapi cak mano, oiii cak mano, badan lah rengko, hidup dak lemak. Oiiii
Sungai Musi dalam banyunyo, banyak iwak benamo Juaro. Oii mak mano hidup dak
rengko, iwak dilepas diambek Juaro…” Bah, apa pula ini syairnya, rutukku.
Tapi aku semakin tertarik.
Tiba-tiba hening. Tak ada suara. Kulirik dari sudut mata, ia
tampak terdiam. Jemari berdaki itu tampak meremas-remas. Pandangannya hanya
tertuju ke bawah. Aku seakan menanti syair-syair berikutnya. Pastinya ia
seorang yang berjiwa seni, yakinku.
Tapi sejenak tak ada suara, kutunggu tak terdengar juga.
Saat kulirik lagi, bangku panjang itu telah kosong. Tapi sayup-sayup telingaku mendengar
lagi. Sayup-sayup…
“Inilah hidup si ikan Tenggiri. Pacak berenang masuk
kelaut….Maksud hati nak nyadarkan diri, sayang di sayang makin sengkarut…”
suara itu terdengar semakin menjauh, dan diujung jalan kulihat ia melenggok,
semakin hilang masuk ke perkampungan.
Aku sendiri di dermaga lapuk itu, benar benar sendiri.
Jika tadi jemariku masih memainkan telepon genggam, sesekali
mengambil jepretan, sekarang kusimpan dan kumatikan. Aku ingin menikmati
kesendirian ini. Sepoinya angin dari tengah sungai membelai mata. Sesekali
helaian uban putih bergerak tertiup hembusan angin. Menyenderkan kepala ke
tiang besi dermaga sepertinya cukup nyaman. Lama dan semakin lama aku menikmati
hembusan syahdu itu.
“Inilah hidup si ikan Tenggiri. Pacak berenang masuk
kelaut….Maksud hati nak nyadarkan diri, sayang di sayang makin sengkarut…” Telingaku
bagai mendengar kembali syair itu, sekarang terasa makin dekat. Angin makin
memanjakan mataku.
”Kalu nak nak tahu jalan ke laut, ambek sampan tinggalkan
sungai. Kalu nak tahu lemaknyo hidup, janganlah banyak buat perangai,” suara
itu begitu dekat ke telingaku. Duh.
“Mungkin lah benar ikan berenang, sampai ke tengah laut
dalam. Mungkinlah benar jalo dipasang, sayang di nasib idak ngizinkan.” Uh,
kenapa suara itu seolah menasehatiku.
Dalam keheningan itu, semilir angin makin membuai.

Semua begitu indah dan menyenangkan, pada masanya. Hidup berkecukupan, tak kurang dan tak lebih. Bocah-bocah lucu menjadi penghibur di kala sedih, pengobat letih pelepas penat.
Ya pada masanya. Sampai prahara, karena salah meniti jalan,
keliru memakai pendayung biduk, palung di laut terlupakan. Tenggelam sudah
kapal di lautan, tercabik ombak badai menerjang. Berserabutan penumpang mencari
pantai, susah payah berenang hingga terdampar di pasir putih.
“Jangan dikhayal laut yang dalam, laut bertuah terkenal
keramat. Hoiiiii…..tinggi-tinggi rumah dipasang, kalau berdiri di tanah juga.
Hoiii…tinggi-tinggi elang terbang, mencari makan ke bawah juga…. Dum dum dum
trak trak….” Aku bagai mendengar suara itu ada di dalam hatiku. Ah bukankah
perempuan gila tadi yang bersenandung, kenapa hatiku ikut berdendang. Aku
menikmati saja, menuruti alunannya, merasakan makna dan hembusan semilir angin
sore. Ada rasa nyaman, berbaur dengan gundah, galau, tapi bagai bercermin ke
air yang bening. Adakah aku disitu? Entahlah.
Tiba-tiba dermaga tempatku bersandar bergoncang hebat. Bagai
tercerabut dari pondasi, goyangan itu begitu kuat. Gempa bumi, batinku cemas.
Semburat dingin juga menerpaku beringas. Asin. Kupaksa membuka mata.
Terbelalaklah diriku.
Beberapa pasang mata tampak mengelilingiku. Mereka seolah
heran.
“Bapak sudah bangun? Dari tadi tertidur dan tak sadar bahwa
air sudah mulai pasang. Lama sekali terpejamnya. Kami pikir bapak pingsan,
karena lama tak bergerak,” suara salah seorang timku cemas.
“Kami dari tadi mencari Bapak, rupanya disini. Ini hari
sudah sore, sebentar lagi pasang dan akan sulit kita keluar. Mari kita pulang
pak,” ujarnya. Aku masih belum begitu sadar. Kulihat sekeliling, semua adalah
anggota tim. Mataku masih terasa kabur, sedikit pusing kurasakan.
“Semua kelompok sudah kita datangi, Alhamdulilah mahasiswa
KKN UIN Raden Fatah aman pak, mereka bisa ber-KKN dengan baik dan sehat-sehat
semua,” jelas mereka lagi.
Ah, lupa aku. Bukankah kedatangan ke Muara Sungsang ini
dalam rangka meninjau mahasiswa KKN. Kenapa aku begitu terhanyut oleh kesepoian
angin. Mungkin capek dan memang suasana begitu mendukung.
“Ayolah kalau begitu, kita pulang sekarang,” ujarku. Mataku
masih mencari sekeliling. Semua hanya lalu lalang penduduk setempat. Tiga
perahu di bibir dermaga masih tertambat rapi. Gelombang sungai masih
mengayunnya. Sama persis seperti tadi.
“Mungkin lah benar ikan berenang, sampai ke tengah ke
laut dalam. Mungkinlah benar jalo dipasang, sayang di nasib idak ngizinkan…”
Syair itu bagai menggema kembali ditelinga, atau mungkin
dihatiku.
Dermaga lapuk di perkampungan nelayan Marga Sungsang itu
kami tinggalkan. Dari kejauhan logo UIN Raden Fatah dari salah satu posko
mahasiswa KKN Reguler Angkatan 82 semakin menghilang.